Recent Posts

Ketika Daun Berwarna Coklat Itu Jatuh

4/06/2011
YAHELINE
Malam selalu punya cara sendiri untuk membuat rumah terasa lebih jujur.

Selepas Isya, seperti malam-malam sebelumnya, aku duduk sendirian di taman kecil di belakang rumah. Ruang berukuran tiga kali empat meter itu nyaris tersembunyi dari dunia. Dinding batako setinggi tiga meter di kedua sisinya membuat taman ini seperti sebuah ruang luar yang sengaja dipisahkan dari keramaian.

Di sudutnya, air mengalir pelan dari sebuah waterfall kecil. Gemericiknya bertemu dengan suara malam, sementara secangkir teh manis dan rokok mild menemaniku duduk tanpa agenda.

Aku tidak sedang memikirkan sesuatu.

Setidaknya, begitulah awalnya.

Sampai sehelai daun berwarna coklat tiba-tiba jatuh.

Tidak ada angin. Tidak ada suara ranting patah. Daun itu hanya terlepas, berputar sebentar di udara, lalu mendarat di lantai taman.

Aneh.

Mengapa daun itu jatuh, sementara daun-daun lain masih bertahan di tangkainya?

Baca juga: Rumah Impianku Tidak Muluk Yang Penting Nyaman 

Pertanyaan sederhana itu membawa ingatanku kembali ke pelajaran biologi SMP. Sebuah daun akan kehilangan kehijauannya ketika klorofilnya berkurang. Ia tak lagi menjalankan perannya seperti sebelumnya. Pada suatu titik, ia tidak lagi menjadi bagian yang diperlukan bagi pohon.

Mungkin hidup memang sesederhana itu.

Aku memandangi pohon di atas kepala. Tiba-tiba ia tidak lagi tampak sebagai pohon. Batangnya seperti sebuah organisasi. Cabang-cabangnya menyerupai struktur. Dan daun-daun yang memenuhi rantingnya adalah manusia-manusia yang bekerja, tumbuh, memberi, lalu suatu hari mungkin harus pergi.

Barangkali tidak selalu diperlukan pertengkaran untuk membuat seseorang kehilangan tempat.

Tidak perlu fitnah.

Tidak perlu kudeta.

Tidak perlu siapa pun mendorong.

Ada waktunya sesuatu jatuh karena memang sudah waktunya jatuh.

Baca juga: Tumbuhkan Minat Anak Pada Sains, Kunjungi Petualangan Dinosaurus 

Namun manusia berbeda dari daun.

Kita diberi kesempatan untuk belajar. Untuk memperbarui pengetahuan. Mengasah kemampuan. Mengubah cara pandang. Barangkali, selama masih diberi waktu, kita masih bisa menemukan kembali alasan mengapa keberadaan kita diperlukan.

Aku sruput teh yang mulai dingin.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Daun coklat itu masih terbaring di lantai.

Besok, mungkin istriku akan menyapunya dan membuangnya bersama daun-daun kering lainnya.

Aku tersenyum kecil.

Mungkin begitulah hidup mengajarkan sesuatu: bukan tentang bagaimana agar kita tidak pernah jatuh, melainkan tentang bagaimana tetap memiliki makna sebelum waktunya tiba untuk melepaskan diri dari tangkai.

AUDIO Yahe's Song: Daun Coklat Itu.mp3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar