Recent Posts

Serangga Datang Sendiri Saat Lampu Bercahaya #2

7/20/2004
Yaheline

Kebaikan yang dilakukan tanpa penonton. Kejujuran ketika tidak ada yang memeriksa. Keterampilan yang terus diasah meskipun belum mendapatkan pujian. Keramahan yang tetap diberikan kepada orang yang tidak bisa membalas apa-apa.

Semua itu seperti cahaya. Bukan cahaya yang menyilaukan, bukan pula cahaya yang menuntut dunia untuk memandangnya. Hanya sebuah terang yang membuat ruang menjadi lebih mudah dihuni

Saya teringat pada berbagai sore di rumah. Ketika pekerjaan telah selesai, saya duduk bersama keluarga. Kadang kami berbicara tentang perjalanan, tentang makanan yang ingin dicoba, atau tentang rencana kecil untuk akhir pekan. Tidak ada yang istimewa dari pemandangan itu. Namun, justru di dalam kesederhanaannya, saya merasa menemukan sesuatu yang selama ini dicari manusia dengan cara yang terlalu rumit: kebahagiaan yang tidak perlu dibuktikan.

Baca juga: Menyingkapi Keterpurukan

Mungkin cahaya yang sesungguhnya bukan tentang berapa banyak orang yang datang kepada kita. Ia lebih dekat dengan pertanyaan: apa yang mereka rasakan ketika berada di dekat kita?

Apakah mereka merasa aman? Apakah mereka dapat menjadi diri sendiri? Apakah kehadiran kita membuat hari mereka sedikit lebih ringan? Saya tidak ingin mengajarkan kepada siswa itu bahwa perempuan, kekayaan, atau kedudukan akan otomatis datang ketika seseorang memiliki kelebihan. Kehidupan tidak selalu bekerja dengan rumus sesederhana itu. Orang baik pun bisa mengalami kesepian. Orang terampil pun bisa menghadapi kegagalan. Dan tidak semua hal yang kita harapkan akan datang pada waktunya.

Namun, saya ingin ia memahami bahwa membangun kualitas diri tetap merupakan perjalanan yang layak ditempuh, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat.

Bel masuk berbunyi.

Suara itu memotong percakapan kami, mengembalikan ruangan pada ritme sekolah yang biasa. Ia berdiri, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan keluar menuju kelas.

Baca juga: Rumah Impianku Tidak Muluk Yang Penting Nyaman

Saya kembali ke meja kerja. Di luar jendela, matahari mulai meninggi. Debu-debu kecil tampak melayang di antara berkas cahaya, seolah-olah udara sedang memperlihatkan sesuatu yang biasanya luput dari perhatian.

Saya memandang lampu itu sekali lagi.

Barangkali, pikir saya, hidup tidak selalu meminta kita menjadi pusat perhatian. Kadang, ia hanya mengajak kita untuk tetap bercahaya, dengan cara yang paling jujur yang kita mampu.

Dan jika suatu hari ada seseorang yang merasa nyaman datang mendekat, biarlah itu menjadi akibat dari cahaya yang kita rawat—bukan alasan mengapa kita menyalakannya.
Jangan hidup untuk dikerumuni. Hiduplah dengan kualitas yang membuat kehadiranmu menjadi tempat bagi orang lain untuk merasa nyaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar